Eksekusi Mati Merry

Gelap…. Selain karena malam, mereka menutup mataku. Tangan dan tubuhku pun diikat pada sebuah tiang kayu.

Seluruh sendiku kaku. Gigiku bergeretak kelu. Mereka akan mengeksekusiku dalam beberapa detik lagi.

Mati. Harga yang harus aku bayar atas kenekatanku membawa benda haram milik lelaki bule itu melampaui batas negara ini.Menyesal, pasti. Terlebih, aku akan meninggalkan dunia ini tanpa didampingi putriku Devi. Satu-satunya buah hatiku yang tersisa. Walau, sebentar lagi, aku bisa berkumpul dengan putraku yang tertidur panjang karena penyakit jantungnya.

Malam ini, dalam pejam, aku mendengar desiran angin laut. Tangan-tangannya seolah merengkuhku dan berkata, “Merry, jangan takut, aku ada untukmu.”Angin malam telah berbaik hati menggantikan Devi.

Ini memang jalan yang terbaik untuk kami. Devi tidak akan perlu melihat nyawaku tercerabut oleh sebutir peluru dari senjata penembak jitu.

***

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
Ilustrasi Stockvault

Angin malam ini, semakin kencang. Semakin lama memelukku, dia menjadi ikut merasakan kecamuk dalam diriku. Langit pun demikian. Gemuruh guruh tak berhenti-hentinya bersahutan.

Tak lama, tetesan air hujan, terdengar. Walau mataku tertutup kain, aku bisa memperkirakan banyaknya tetesan air hujan itu. Deras….

Beberapa langkah kaki terdengar. Telapaknya memecah genangan air di dekatku. Langkahnya semakin dekat dengan tempatku terikat.

Ternyata benar, mereka menuju ke arahku dan salah satu dari pemilik langkah kaki itu berbisik, “It’s over my dear… It’s over.

Hatiku melonjak. Tak percaya, eksekusi tidak jadi dilakukan tanpa kutahu sebabnya. Aku menangis sekencang-kencangnya saat mereka melepas ikatan tangan dan penutup mataku. Aku tak peduli lagi dengan air hujan yang membasahi tubuh ini.

Mereka kemudian membopongku menuju pendopo di Lapas Palu, Pulau Nusakumbang, tempat pengasinganku. Aku hanya bisa terus menangis sampai tertidur di sana.

***

Sorot mentari membangunkanku. Entah apa yang terjadi semalam, aku tak mampu mengingatnya. Yang aku tahu, aku masih bisa bernafas dan melihat cerianya mentari pagi ini.

Syukur tak habisnya kuucap ketika aku melihat buah hati tercinta Devi. Dia tengah duduk di salah satu sudut ruangan dan tengah menyandarkan kepalanya di bahu ayahku. Cantiknya putriku yang satu itu…. Kerasnya hidup lantaran terpaksa berjuang mencari uang untuk membiayai kuliahnya sendiri karena ulahku, tak mengurangi kecantikannya.

Namun, kenapa dia menangis tersedu? Matanya sembab dan merah. Tubuhnya lunglai dalam rengkuhan sang kakek.

Apakah pihak kejaksaan belum memberitahukan tentang pembatalan eksekusi matiku?

Aku pun mendekat…, namun kemudian tercekat…

***

Apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa ini? Siapa yang ada di peti mati itu? Peti yang ada di hadapan anakku? Kenapa dia menangisinya?

Berat…walau berat, kakiku ku langkahkan mendekati peti mati tersebut. Bagai kembali mendengar suara guruh semalam, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku melihat selembar kertas putih bertuliskan “Merry Kuo, 45, Semarang.”

*****

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s