Menikah, Siapkah?

I’m 32 dan belum menikah. Ya, di Tanah Air, angka ini bukan lagi usia yang pantas sendiri. Apalagi untuk perempuan.

Lalu kenapa saya masih single? Entah. Salah siapa? Tak ada. Apakah jomblo pilihan? Tidak juga.

Njuk aku kudu piye? Banyak yang berkata, “Cari dooong.”

Ndasmu njeblug! Pertama, carinya di mana? Memangnya ane tau jodoh ane ada di mane? Kedua, ini memang kehendak Allah. Mungkin tugasku belum selesai, jadi rewardnya belum dikasih.

Ada juga yang mengatakan, “Enggak usah terlalu milih lah.” Ada juga yang dengan kurang ajar mengatakan, “Kalau kelas kita itu C, jangan milih yang kelas A lah.”

Tuhan….

Hal terpenting, saya selalu berusaha menjadi manusia yang baik.

Terlebih, buat saya, menikah itu tidak hanya berpikir sampai akad dan resepsi. Bukan juga soal kenikmatan dan kesakitan di malam pertama. Tapi berpikir bagaimana dua orang yang berbeda kultur dan didikan bersatu. Belum lagi cara mempersatukan dua keluarga dengan konsep hidup dan pemikiran yang berbeda.

Beberapa teman saya mengaku menyesal menikah. Kebetulan, teman-teman ini berasal dari keluarga yang “unik” seperti saya. Hmmm…sebetulnya setiap keluarga itu unik, tapi keluarga kami satu atau dua level di atas keunikan keluarga pada umumnya.

Teman saya yang pertama, tidak memiliki masalah dengan mertuanya. Tapi masalah ada di sang suami. Sebelum menikah, teman saya ini sudah memperingatkan akan keunikan keluarganya dan si pria harus menerima keunikan itu ketika menikahinya. Saya menyebutnya dengan istilah sepaket.

Satu tahun… dua tahun… tiga tahun…, rumah tangganya mendekati sempurna. Kedua pihak berkompromi dengan baik.

Pada tahun ke empat, sang suami mulai protes krn teman saya selalu menyerahkan 70 persen penghasilannya ke orangtuanya. Seperti yang saya bilang tadi, keluarga kami unik, jadi mau tidak mau kami jadi tulang punggung mereka. Jika tidak seperti itu, keluarga kami tidak makan, meski orangtua kami bekerja.

Saat itu, mulailah sang suami mengurangi suplai uang ke kebutuhan rumah tangga. Alasannya, gaji sang istri lebih tinggi dari suami. Tapi helloooo, samg suami punya kos2n 10 pintu di Jogja. Belum lagi kos2annya di kota lain. Otomatis, beban teman saya bertambah.

Setiap bulan gajinya minus karena harus kirim uang ke rumah, bayar pembantu, bayar listrik, beli susu 2 anaknya dan kebutuhan rumah. Suaminya hanya suplai uang untuk makan dan bayar gaji pengasuh anak.

Dia pun dihalang-halangi ketika ingin menjenguk orangtuanya. Terlebih jarak rumah mereka ke rumah orangtuanya hanya 1,5 jam naik sepeda motor.

Suaminya juga semakin tidak menghargai orangtua teman saya. Saat itulah dia berkata, “Aku menyesal menikah cepat sebelum membahagiakan orangtua.”

Tak ubahnya teman saya yang lain. Dia bahkan harus menghadapi mertua yang sering merendahkan orang lain.

Sang mertua sering menghina pemberian sang orangtua untuk kedua anaknya. Mereka jumawa karena memiliki banyak uang. Sering tidak mau kalah dengan orang lain, termasuk besannya.

Lalu suaminya? Tentu saja dia membela orangtuanya sendiri. Sering melarang anak dan istrinya pergi ke rumah mertua yang ada di kota sebelah. Bahkan dia tega membiarkan dua anak dan istrinya naik bus Sumber Kencono, padahal mereka memiliki mobil.

Jadi, apakah tidak boleh memilih dengan cermat orang yang akan mendampingi saya –insya Allah sampai mati? Apakah saya tidak boleh berhati-hati? Apakah salah jika saya masih menunggu orang yang tepat?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s