Aku Memang Miskin, Tapi Bukan Pencuri

image

Biasanya, aku benci Rabu. Bagiku, Rabu pertanda kita masih berada di tengah minggu. Ibarat mendaki bukit, kita hampir mencapai puncak. Bagi pendaki –walau blm pernah mendaki gunung, baru bukit doang– saat inilah yang paling melelahkan. Tenaga hampir habis tapi tubuh kita forsir agar segera sampai puncak.

Tapi Rabu, 23 April 2014 ini terasa beda. Aku tidak merasakan ‘kelelahan’ itu.

Aku mulai hariku dengan bangun sebelum adzan subuh. Segera mandi ketika nyawa sudah mengumpul dan berangkat kerja tanpa terlambat.

Pekerjaan pun terasa ringan. Aku bisa mencapai targetku sendiri. Mengedit tanpa kesalahan dan memenuhi kuota kantor.

Jam demi jam selalu diiringi dengan tawa. Sampai pada akhirnya datanglah si Mr X. Huffftt…

Dia kembali menanyakan soal uang absennya. Yah, singkat kata, dia seolah menuduhku nilep uangnya senilai Rp165 ribu.

Atau, entah aku yang merasa menjadi tertuduh. Entahlah. Yang jelas, aku tidak pernah melakukannya. Aku mencari nafkah u keluargaku. Dosa sekali aku kalau menafkahi keluargaku dengan uang curian.

Air mata tumpah. Terbayang wajah-wajah orang terkasih. Bapak, ibu, adek-adek…

Orangtuaku tidak pernah sekalipun mengajarkanku untuk jahat kepada orang. Kami tidak pernah mencuri. Meski mereka tidak bisa membeli beras dan memberiku uang saku ketika aku SMA.

Sesak rasanya ada orang yang baru mengenalku tapi sudah menuduhku sebagai pencuri. Sakitnya luar biasa.

Aku yakin Allah punya rencana yang lebiiiih indah buatku setelah musibah ini. Aamiin…aamiin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s