Tragedi ‘Bola Api’ di Kos

Minggu, 20 April 2014

 

Dum!! Duk! Duk! Dak! Duk!

 

Aku matikan kran kamar mandi setelah mendengar suara gaduh dari luar kamar. Tanpa menghentikan aktivitas mencuci pakaian, aku menengok ke luar melalui pintu kamar mandi yang sejajar dengan pintu kamar kos. Sekilas tampak kobaran api dari pantulan helm yang tergantung di motor di depan pintu kamarku.

 

“Api!” pikirku. Segera aku letakkan pakaian ke ember yang masih penuh air dan pelembut kain. Aku tengok keluar kamar.

 

Ternyata, api itu berasal dari tabung gas melon milik tetangga kos sebelah kamarku. Saat aku melongok dari pintu kamar, dia sedang menyeret tabung gas beserta kompornya keluar kos. Dia pun panik karena di depan pintu kos, ada motor. Dengan suara bergetar dia berteriak memanggil pemilik motor.

 

Untung sang pemilik motor cepat keluar. Setelah menyingkirkan motornya, dia membantu si mas-mas pemilik tabung gas 3 kilogram tersebut dan berteriak “Api! Api!” sehingga membuat seluruh penghuni kos keluar.

 

Sementara aku, ye ye ye…masih berkutat dengan kepanikan. Panik karena ingin menyelamatkan diri tapi tidak bisa membiarkan tabung itu meledak.

 

Tangan, kaki, dan badanku bergetar. Takut. Takut membayangkan keadaan tubuhku saat tabung itu meledak.

 

Tapi tiba-tiba kepanikanku teredakan oleh teriakan salah satu tetangga. “Air!” tukasnya. Segera aku menuju kamar mandiku, aku buang semua pakaian dan ember berisi air itu kuberikan ke mereka.

 

Seluruh warga pun bergotong royong memadamkan api dari tabung gas berwarna hijau tersebut. Sampai sekitar 10 menit kemudian, api bisa dipadamkan. Walau, gas terus keluar dari tabung.

 

Terimakasih Tuhan, kau selamatkan nyawa kami hari ini…

 

Setelah kejadian tersebut, ada sejumlah hal yang aku renungkan. Pertama, lebih menghargai hidup. Selama ini, aku tidak pernah berpikir kematian itu sangat dekat, sehingga sering mengabaikan ibadah.

 

Kedua, harus memiliki jalur evakuasi ketika terjadi hal serupa. Mengingat, aku juga punya kebiasaan memasak dan memiliki kompor meski tidak berbahan bakar gas.

 

Ketiga, jangan pernah menyiram api dari gas. Air justru membuat api semakin besar ketika disiramkan ke api yang terbentuk dari gas. Gunakan lap basah untuk memadamkannya. Ketika sudah tertutup lap, baru bisa disiram dengan air.

 

Keempat, kendalikan pikiran dalam situasi genting. Ini akan membantu mengatasi kepanikan.

 

Kelima, segera minum air dan balur tubuh dengan sesuatu yang hangat. Air hangat akan membantu kita pulih dari shock dan baluran hangat di tubuh meredakan rasa sakit karena otot tegang. Terlebih, aku ikut menggotong ember penuh air pada saat kejadian.

 

Mudah-mudahan, kejadian ini tidak terjadi lagi padaku ataupun pada Anda.

 

 


2 thoughts on “Tragedi ‘Bola Api’ di Kos

    1. Hahaha…kaki, tangan, badan, semuanya lemes ka setelahnya. apalagi si masnya, sampai rabu (23/4) ini doski jarang keluar kamar dan klo pulang malem mulu. pasti doski syok dan malu berat. hehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s