Siapa Bilang Jadi Editor Lebih Enak daripada Reporter?!

Ok! Setelah melow-melow gegara kantor yang enggak jelas, akhirnya surat keputusan keluar. Sejak 1 Januari 2014, si Bentang tidak lagi berpetualang keliling Jakarta dan disuruh berada di balik meja. Walau resmi ndekem di kantornya baru sebulan kemudian sih.

Hal pertama yang terpikir adalah jangan sampai terbawa politik kantor. Otak pun kuperas untuk mendapatkan strategi jitu agar tidak terlibat dan dilibatkan dalam politik enggak penting itu.

Deg-degan juga sih karena enggak pede dengan kemampuan ngedit. Yah, mengingat dari dulu kemampuan bahasaku dalam tes IQ selalu jeblok.

Tapi ternyata tidak sesulit yang kubayangkan untuk bisa menghindar dari politik kantor. Ada sebuah alat yang membantuku tidak mau tahu dengan lingkungan sekitar. HEADPHONE!!!

Untuk mengedit pun sebenarnya tidak ada masalah dengan kemampuanku yang pas-pasan. Terlebih, ada teman-teman yang bisa ditanya soal diksi (pemilihan kata) atau ejaan yang Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Hanya saja, si Bentang ini masih membutuhkan waktu lama untuk mengedit. Terutama untuk tulisan yang memang sulit diedit.

Kadang suka heran dengan beberapa orang yang bisa mengedit dalam waktu cepat tulisan yang hampir tidak bisa disebut berita itu. Aku pernah bertanya ke salah satu teman editor. “Bagaimana cara dia ngedit ya? Kok bisa cepet begitu dan berani mengambil tulisan dari reporter yang bahkan tidak bisa menulis sebuah kalimat plus bebal?”

Si temen editor ini dengan entengnya menjawab, “Enggak tahu aja sih lo, doi sering didatengi redpel yang complain kenapa tulisan seperti itu bisa diloloskan. Namanya juga editor yang sama2 enggak tahu cara bikin kalimat.”

Hmm… baiklah.

Masalah kedua, banyak reporter yang bebal ketika dikonfirmasi soal tulisan ngaconya. Bahkan, salah satu di antaranya lebih galak kalau ditanya soal tulisannya. Kadang, tensiku naik gara-gara reporter yang seperti ini. Sementara, itu reporter tidak berada di bawah tanggung jawabku.Tapi mulut ini selalu gatel memarahi mereka. Ingin sebenarnya membuat mereka maju. Tapi sepertinya reporter-reporter bebal ini sulit diajak maju.

Untungnya, aku punya dua reporter yang bisa kujamin soal kualitas tulisan dan loyalitasnya. Bahkan aku sering dipusingkan dengan ulah keduanya yang tidak mau libur. Akupun tidak pernah kekurangan berita walau hanya punya dua ujung tombak.

Menilik dari pemikiran-pemikiranku dulu saat masih jadi reporter, hmm….aku tarik lagi. Aku dulu berpikiran lebih enak jadi editor. Mereka enak aja kerja di kantor, tinggal nyuruh-nyuruh, dan liburnya teratur.

Ternyata enggak tuh. Jadi editor itu lebih susah karena selain mengedit, kami juga harus mengarahkan reporter, mengembangkan isu, membuat reporter baru keluar dari cangkangnya, jadi sasaran kemarahan redpel kalau reporter ngaco, belum lagi menghadapi reporter-reporter pembangkang.

Dari dulu impianku jadi reporter senior memang tidak salah. Sayangnya, di kantor baru ini tidak ada jenjang itu… Berbahagialah kalian yang masih menjadi reporter.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s