1 Buku, 1 Tahun?? Zzzzz… –The Geography of Bliss–

Huuufffftt…dengan terpaksa, kali ini, keluhan tertuang kembali di Bentangku. Well, sedang banyak masalah di kantor. Hal ini membuatku lost in direction. Dalam segala hal! Perlu dicatat itu!

Ga doyan tidur, ga doyan baca, ga doyan nonton film, ga doyan main, ga doyan kerja apalagi… Hanya ga doyan makan yang enggak! —dan ibuku sangat kecewa krn ‘sakit’ ga doyan makan ini ga ada di kamus anaknya—

Yeah..

Makin lama, ‘penyakit’ yang menggerogoti hati dan pikiranku ini semakin parah. Untungnya, masih ada keinginan untuk sembuh, sehingga kuputuskan melawan ‘penyakit’ tersebut.

Cukup lama menemukan metode agar ‘sembuh.’ Sempat gonta-ganti metode juga. Metode pertama adalah menuntaskan buku-buku yang masih tersimpan rapi dan belum dibuka dari bungkusnya di rak. Melawan rasa malas. Padahal, buku-buku ini sudah kubeli dari tahun 2011! Setelah diinventaris, ada delapan buku masih tersegel dan empat lainnya baru dibaca beberapa halaman. Total ada 12 buku.

Ok! Aku putuskan untuk membaca buku yang baru dibaca beberapa halaman. Buku pertama yang aku –teruskan– baca adalah The Geography of Bliss milik Eric Weiner.

Wohaaa!!! Ternyata di buku ini ada satu bab yang menarik hati. Nyesel jadinya karena nganggurin buku ini selama setahun.

Buku ini menceritakan tentang “kenakalan” dari sang penulis untuk meneliti tentang negara mana yang paling bahagia di dunia ini.

Nah, aq sangat setuju dengan teori kita tidak pernah tahu negara A merupakan bangsa yang bahagia ketika belum menemukan atau berada di negara yang lebih menyedihkan. Sepertinya bahasaku agak rumit sih. Tapi mudah-mudahan bisa dimengerti.

Ini sempat aku rasakan ketika berada di Sudan, Afrika. Negara miskin ini….hmm…sangat miskin. Tak ada keinginan maju dari penduduk asalnya sendiri.

Contoh kasusnya, soal bandara internasional. Sebagian dari kita beranggapan Bandara Internasional Soekarno-Hatta itu bapuk. Kamar mandinya jorok –meski sebagian memang iya– atau kekunoan bandara kita tersebut.

Ketika ane ke Sudan. Tuhaaan…. Bandara internasional mereka lebih mirip pasar tradisional semi modern. Di bandara ini, antrean –seolah– tidak berlaku. Kamar mandinya….kalau ada yang mau ke Sudan aq saranin jangan pipis di bandaranya. Kecuali kalau kepepet atau iseng mau lihat, mending bawa masker muka dah. Selain itu, waspada sebelum masuk kotak toilet.

Mereka ga tahu yang namanya ngebanjur toilet habis buang hajat! Apalagi pipis men!

Pas liat kotak kamar mandinya itu…awawawaw..eike batalin niat pipis. Masalahnya, kotoran manusia pada nempel cuy di dinding-dindingnya! Berserakan di mana-mana! Sumpah! Dan itu ga cuma di satu kotak toilet! Mereka pakai jetpam kali ya di duburnya sampe kocar-kacir begonoh!

Well, sebaiknya kita cukupkan obrolan ttg kejorokan ini -_______-”

Balik lagi ke bukunya Mas Eric. Ada satu bab yang menarik hati, yaitu terkait penelitiannya tentang negara yang dikenal paling tidak bahagia. Negara itu bernama Moldova. Negara yang terapit Ukraina dan Rumania tersebut diulas dengan jujur dan membuatku ingin ke Moldova.

Negara bekas jajahan Rusia itu, taraf hidupnya hampir mirip dengan kita. Nilai mata uang mereka hampir sama dengan Rupiah. Cuma, untuk ke sana dari Indonesia, mahal kale cuy. Karena tidak ada penerbangan langsung.

Kata Mas Eric, di Moldova semua orang sudah terbiasa dengan ketidakbahagiaan. Banyak macam ketidakbahagiaan yang diungkap di sini… Seperti ketidakbahagiaan karena pendapatan yang kecil. Maklum, berdasar data Word Bank yang eike cari di mbah Google, pendapatan perkapita Moldova termasuk rendah.

Atau tentang jumlah prianya yang lebih sedikit dari wanita. Sebagian besar pria di Moldova memilih merantau ke negara lain di sekitarnya. Otomatis, para wanita berlomba menggaet pria yang tersisa. Tak heran, banyak wanita yang berpakaian seksi dan berdandan seperti mau ke kondangan. Keadaan tersebut menciptakan penurunan standar mutu pria. Well, para wanita ini –mungkin– sudah tidak peduli kalau pria-pria itu ompong.

Hal-hal yang diungkapkannya di buku ini menggelitikku untuk tahu lebih dalam tentang Moldova. Apakah benar yang dia tulis tentang negara itu sesuai dengan kenyataan? Atau karena dia sudah menjelajah ke tempat-tempat yang bahagia –dalam berbagai arti–, jadi menurut dia, Moldova adalah tempat yang paling tidak bahagia.

Beberapa kali browsing, banyak foto-foto sudut sejumlah daerah di Moldova. Kesan pertama melihatnya, INDAH! Tidak sepenuhnya mirip seperti yang digambarkan Eric.

Lalu, ane juga nemu forum warga Moldova yang masih tinggal maupun yang sudah hijrah dari Moldova. Sebagian besar dari mereka mengkritik diskripsi Eric tentang negaranya. Forum itu bs dilihat di sini:

http://www.englishmoldova.com/index.php?showtopic=289

Terlepas dari kebenaran informasi yang diberikan Eric di buku ini, aq jadi menambah pengetahuan tentang Moldova dan sejumlah negara yang dikupasnya. Dan tentunya, terlepas dari stres pekerjaan…mudah2n stressing pekerjaanku skrg ini tidak diterjemahkan dengan cara paling menyedihkan oleh Eric. Hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s