Unbreak Our Heart

“Unbreak my heart..Say you’ll love me again..Undo this hurt you caused..When you walked out the door..And walked out of my life..Uncry these tears..I cried so many nights..Unbreak my heart..” 

 

Kali ini, lantunan lagu Unbreak My Heart – Tony Braxton yang menemani kesendirianku di kamar berukuran 3×4 meter. Seperti biasa, aku mendengar lagu dari netbook melalui earphone sambil tidur-tiduran menghadap tembok kamar mandi. Seperti biasa pula, aku hanya mendengarkan satu lagu di playlist.

 

Keasikan itu membuatku tak sadar, perlahan kamar yang kudiami selama empat tahun itu berubah menjadi mesin waktu. Tanpa sekat, tanpa tetangga berisik,  tanpa perabot dan sampah menumpuk. Aku disadarkan oleh sebuah spotlight putih dari tembok kamar mandi. “Mesin waktu” itu bergerak sangat cepat. Dalam hitungan detik, dia membawaku ke era 90-an.

 

Aku tiba di sebuah ruangan berukuran 4×5 meter. Banyak gambar-gambar kartun buatan sendiri di dinding berwarna biru langit. Sekitar 20-an boneka berserakan di tempat tidur dan meja rias mungil di sampingnya. Sepertinya, aku sangat familiar dengan tempat ini. Tapi entah di mana dan kapan aku singgah ke sini.

 

“Pyarrr!!!!” tiba-tiba aku dikagetkan sebuah suara benda pecah belah yang menghantam pintu kamar. “Pergi kamu dari sini!!!” suara seorang wanita menyusul suara benda yang aku yakin sudah tak berbentuk. Beberapa menit kemudian, dua anak kecil beserta neneknya masuk ke kamar dengan wajah cemas dan ketakutan. Gadis-gadis kecil itu mungkin berusia tujuh dan enam tahun.

 

“Jaga adek ya. Tutup telinga kalian,” pesan wanita paruh baya itu kepada cucunya. Mereka duduk di lantai kamar menghadap pintu dan membelakangiku.

 

Anak-anak tadi lantas menuruti perkataan sang nenek. Namun, gadis terkecil menjauhkan tangannya dari telinga saat neneknya pergi dan menutup pintu. “Mbak, bapak mau pergi?” tanyanya kepada sang kakak. “Sssstt..,” jawab kakaknya dan menangkupkan kedua telapak tangannya ke kuping si adik. Anak tertua itu lalu mengajak adiknya bernyanyi. Mereka lalu melantunkan lagu Toni Braxton, Unbreak My Heart.

 

Penasaran, aku mencoba berjalan menuju mereka. Tanpa perlu memandangi wajah mereka lekat-lekat, aku tahu siapa kakak beradik itu. Namun, mesin waktu embawaku kembali ke masa kini..

 

 

==unfinish==


One thought on “Unbreak Our Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s