Berpetualang mencari Kebahagiaan

Sebagian orang mencari nilai kebahagiaan dengan bertravelling, termasuk saya. Namun, setiap kali travelling, justru yang ada perasaan sedih dan ketidakbahagiaan. Terkadang, saat bertravelling –biasanya satu hari sebelum pulang ke Jakarta– saya berpikir cara apa yang harus saya lakukan agar rasa “ketidakbahagiaan” itu tidak muncul. Tapi tetap saja tidak bisa..

 

Sampai akhirnya saya membaca buku The Geography of Bliss tulisan Eric Weiner. Pada buku itu, sang penulis menyebut, “Secara tidak sadar, kita menggabungkan geografi dan kebahagiaan. Kita berbicara tentang mencari kebahagiaan, menemukan kesenangan, seakan-akan kebahagiaan dan kesenangan adalah tempat di atas atlas…

 

Benar, selama ini, saya selalu berpikir seperti itu. “Wah, kalau ke Raja Ampat sepertinya asik yaaa keluar dari kepenatan Jakarta,” atau “Kalau udah ke Papua, rasanya bahagiaaaa banget” bahkan kadang nyeletuk “Enaknya ke Bunaken.” Tapi sebenarnya pergi ke tempat itu tidak membuat saya bahagia. Kebahagiaan itu hanya ada sesaat. Bahkan kadang di lokasi itu saya masih berpikir, “Waduh, ini uang bekel cukup enggak ya.”

 

Eric di bukunya juga mengutip filsuf asal Inggris, Alan Watts. “Jika saya menggambar sebuah lingkaran, sebagian besar orang yang saya tanya tentang apa yang telah saya gambar, sebagian orang akan menjawab saya telah menggambar lingkaran atau cakram atau bola. Sangat sedikit orang akan mengatakan saya telah menggambar lubang di dinding karena sebagian orang berpikir bagian dalam terlebih dahulu daripada berpikir bagian luar.

 

Saya pun berpikir, berusaha meresapi kalimat tersebut dalam-dalam. Sebenarnya, apa yang dimaksudnya, lalu bagaimana mengaplikasikannya. Hmmm….

 

Nah, beberapa menit kemudian saya sepertinya menemukan jawaban sang penulis buku ini. Saya pun memaknainya dengan berpendapat, kebahagiaan itu tidak tergantung tempat. Kebahagiaan ada ketika Anda bisa memaknai setiap kejadian yang ada di sekitar atau yang Anda alami.

 

Saya pun teringat pengalaman lima tahun lalu. Saat itu saya adalah wartawan baru di sebuah media online yang berkantor di Palmerah, Jakarta Barat. Selama seharian penuh, saya ditatar untuk mampu bertahan hidup dengan kaum terpinggir. Kebetulan saya dapat jatah untuk melakukan pendekatan kepada warga pinggir rel sekitar Stasiun Kereta Api Kampung Bandan, Jakarta.

 

Di sana, saya berkenalan dengan seorang ibu, sebut saja dia Marni. Ibu dua orang anak itu mempersilakan saya melakukan pendekatan dan berteduh di rumahnya yang hanya berjarak sekitar satu setengah meter dari rel kereta api. Pertama kali melihatnya miris… Bagaimana bisa bertahun-tahun dia bersama keluarganya hidup di rumah seperti itu. Ibu Marni harus senantiasa waspada dan memasang telinga akan teriakan warga lainnya yang dengan sukarelawan mengingatkan, “Awaaaaas!!! Kereta Lewaaat!!!! Ada keretaaaa!!!!

 

Tapi dia terlihat sangat bahagia. Rumah itu, baginya adalah sebuah surga. Surga di mana dia bisa berkumpul bersama suami dan kedua anaknya. Dia pun membangun kerajaannya di sini.. Walaupun, luas “kastil”-nya itu tak lebih besar dari kamar kosku.

 

Sambil menyuguhiku makan siang, dia menceritakan tentang kehidupannya dan busuknya para abdi pemerintah di daerah itu. Dia pun menceritakan tentang ketidakbahagiaannya.

 

Ketidakbahagiaannya hanya ketika mengetahui rumahnya akan digusur, padahal dia mendapat KTP dari pemerintah setempat dan membayarkan sejumlah uang ke pak RT dan RW untuk dapat tinggal di situ. Bahkan, ada tetangganya yang mengantongi IMB tetap mendapat surat gusuran. Sebab, secara finansial, dia tidak kekurangan. Bahkan dia memiliki kulkas di gubugnya. 

 

Kalau diingat-ingat dan diresapi, setelah itu saya tidak merasakan ketidakbahagiaan yang selalu terasa saat bepergian ke tempat wisata yang katanya paling indah di Indonesia sekalipun. Pulang dari rumah Ibu Marni, saya justru merasakan kebahagiaan dan sangat bersyukur atas apa yang saya miliki.

 

Padahal kalau dipikir-pikir, siapa sih yang suka makan sayut bayam plus ikan pindang di pinggir rel? Apalagi saat itu kereta sedang lewat. Tidak pernah terbayang di benak saya, jika sampah dan debu yang beterbangan akan sebanyak itu. Sementara jarak antara piring dan badan kereta hanya 30 centimeter. Tidak terbayang kan bagaimana kotornya makan siang saya? Dengan perasaan sangat terpaksa dan memohon kepada Tuhan agar tidak sakit, saya tetap memakannya. 

 

Tapi, saya sangat bangga menceritakannya kepada setiap orang yang bertanya tentang pengalaman saya yang paling menakjubkan. Jadi, sekarang, saya tidak perlu berandai-andai pergi ke suatu daerah untuk mencari kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan itu ada di mana saja dan dalam situasi apa saja. Tergantung pada cara kita memaknainya. 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s