Tertipu….

Banyak teman yang menanyakan tentang perjalananku ke “Surga di bawah laut” beberapa waktu lalu.  “Eh, gimana Wakatobi Bob?” atau “Bagus enggak Wakatobi?” yang paling sering adalah “Mana oleh-oleh dari Wakatobi?” Arrrrrrgh…

 

Bukannya enggak suka pertanyaan mereka, tapi pertanyaan itu mengingatkan tentang kebodohanku pergi ke Wakatobi. Walau pergi ke sananya gretongan alias gratis, tetap saja aku merasa rugi. Pasti kalian bertanya, kenapa aku merasa rugi?  Ok, begini ceritanya…

 

Atas undangan sebuah kementerian yang berkantor di seputaran Gambir, Jakarta Pusat, aku akhirnya berangkat ke Wakatobi pada Kamis, 17 November 2011. Rencananya, acara di sana cuma dua hari.

 

Aku mulai merasa tertipu ketika bertemu dengan perwakilan kementerian itu di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Pasalnya, dia tampak enggan menyebut berapa orang yang ikut dalam rombongan. Sekitar pukul 04.30, seorang pria berambut merah turun dari taksi dan memanggil perwakilan kementerian itu (sebut saja dia Mr X ya dan si rambut merah dengan sebutan Mr M).

 

“Nah itu dia si Mr M datang. Dia dari media P,” kata Mr X. Lalu Mr M meminta Mr X untuk membayar ongkos taksinya. “Laaaaah, kok begituuuu?? Ini mencoreng wajah dunia jurnalistik nih,” pikirku. Dan yang lebih mengagetkan saudara2h, dia lah yang mengurus segala akomodasi. “Apa ini proyek mereka untuk menghabiskan anggaran ya?” pikirku lagi.

 

Firasatku ternyata benar dooooonk… Saat tiba di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, aku menanyakan tentang run down acara. Si Mr X jawab, “Ya cuma nanya soal dampak dari Sail Wakatobi-Belitong saja ke masyarakat.”

 

WTF!!!!!!!! Hellooooo, itu bisa dilakukan oleh wartawan lokal. Tidak perlu mendatangkan wartawan dari Jakarta my maaaan!!!!! Biaya ke Wakatobi kan mahaaaaal, begitu juga dengan biaya hidupnyaaaaaa… Arrrrrrggggghhhhhh!!!!!

Kekesalanku bertambah ketika kami mewawancarai Bupati Wakatobi. Si rambut merah bisa-bisanya menawarkan iklan di sela-sela wawancara!!!!!  Pengen banget nglempar toples beling di meja ke mukanya!

Yang terakhir, waktu beli tiket di Makassar untuk ke Jakarta. Mr X sedang pergi membeli minum, padahal sudah waktunya untuk membayar tiket. Satu tiket seharga Rp1,8  juta. Nah, dia mau nalangin donk bo’ dompet udah dikeluarin. Terlihatlah amplop putih yang aku yakin dapet dari kementerian itu. Berarti “amplop” yang dia dapet banyak toh!!

Aku benar-benar tertipu pergi ke sana, merasa sangat dimanfaatkan oleh kedua oknum itu. Haiiiiissssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s