Dongeng tentang “Kunang-kunang” di Owl City

Malam telah larut saat mata Nora terlelap.. Mata indah berwarna heazel itu akhirnya tertutup ketika lelah menggelanyut di sekujur tubuh pemiliknya. Lelah karena pekerjaan dan segudang permasalahan dalam hidup. Masalah dalam hidup yang ingin dilupakan dan tentu saja ingin dihilangkan.
Sudah tiga tahun Nora menjadi tulang punggung keluarganya. Gadis itu menggantikan fungsi sebagai orang tua dalam keluarga. Bukan karena orang tuanya meninggal. Tapi semenjak dua orang yang sangat dihormati, dikasihi, dan dicintainya itu terlilit utang. Utang yang nilainya tak mungkin terbayar olehnya dalam 20 tahun ke depan.
Selama ini, hanya tidur yang dapat mengalihkan perhatiaannya dari masalah tersebut. Seperti tidurnya pada malam ini. Namun, mimpi Nora kali ini, membawa wanita lajang itu terbang jauh ke massa kecilnya. Massa di mana dia tak perlu memikirkan tagihan listrik, biaya sekolah adiknya, atau biaya travel untuk keponakannya. Dia juga tak perlu bertanya-tanya apakah keluarganya sudah makan hari ini atau tidak. Mimpinya itu pun, mengingatkannya pada pelukan sang nenek.

****

Malam ini, hampir sama dengan malam sebelumnya. Lamunan demi lamunan mengisi waktu kosongnya ketika menunggu kantuk. Lima belas lagu dalam Windows Media Playernya telah terputar. Namun, lagu itu tak mampu melawan ketidakngantukannya. Yah, kira-kira sudah sebulan, jam tidur wanita berusia 27 tahun itu mundur enam jam dari seharusnya.
Namun, lamunannya buyar ketika lagu Fireflies milik Owl City terputar..
“You would not believe your eyes… If ten million fireflies… Lit up the world as I fell a sleep… ‘Cause they’d fill the open air… And leave teardrops everywhere… You’d think me rude… But I would just stand and stare… I’d like to make myself believe… That planet earth turns slowly… It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m a sleep… ‘Cause everything is never as it seems.”
“Hmmm…lagu ini memang indah,” pikir jurnalis muda itu.
Dia pun mencoba meresapi liriknya untuk membuat tubuhnya yang gempal bergerak alami mengikuti irama tekno lagu tersebut. Ternyata, bait demi bait lirik lagu itu membuatnya teringat akan sebuah negeri. Negeri dongeng yang sering diciptakan untuk dirinya sendiri saat ia masih kecil. Tak terasa, air mata mengalir dengan deras karena negeri itu mengingatkan Nora pada kakek dan neneknya. Tangisnya pun semakin menjadi, hingga membuatnya semakin lelah dan terlelap.

****

Nora dikejutkan oleh tarikan seseorang di tangannya. Sepasang mata milik Nora pun terbuka. Yang didapatinya bukanlah “seseorang,” melainkan sekumpulan kunang-kunang yang membentuk seperti tangan. Serangga itu mengeluarkan cahaya berwarna biru, kontras dengan warna pepohonan, dedaunan dan bebatuan di sekitarnya… Birunya sangat menentramkan. Berbeda dengan langit biru Jakarta yang membuatnya muak karena banyak asap.
Oleh karenanya, Nora yakin, dia sedang berada di negeri dongeng…
Cahaya yang dihasilkan hewan itupun terang seperti neon kecil yang beterbangan. Kunang-kunang tersebut menariknya hingga berdiri tegak. Nora lalu dituntun berputar oleh “tangan” itu. Mereka lalu berkata, “Menarilah bersama kami… Jangan ragu, lupakan semua masalahmu. Kami bersamamu.”
Ratusan kunang-kunang itu pun memeluk Nora… memeluknya erat… Pelukan yang dirasanya sama dengan pelukan sang nenek saat menenangkannya saat menangis.. “Peri” tersebut pun mengecup pipinya, seakan tahu, apa yang paling dibutuhkannya.
Nora pun menikmati pelukan, dongeng, dan lelucon para kunang-kunang itu. Kenikmatan yang tak didapatkannya di dunia nyata.
Tiba-tiba, salah satu kunang-kunang berkata, “Nora, sekarang, hadapi takdirmu. Pulang lah, Nak. Tapi ingat, saat kau kembali ke duniamu, jangan lupa akan negeri dongengmu. Sebab, negeri dongengmu itu yang akan membantu meringankan deritamu..”
Sekejap, Nora terbangun. Namun, kali ini, dia bangun dengan senyuman

“‘Cause I’d get a thousand hugs… From ten thousand lightning bugs… As they tried to teach me how to dance… A foxtrot above my head… A sock hop beneath my bed.. A disco ball is just hanging by a thread… I’d like to make myself believe… That planet earth turns slowly… It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m a sleep… ‘Cause everything is never as it seems…. When I fall a sleep….”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s