Rambu-Rambu Aneh di Masjid Agung Palembang

Salah satu tempat wisata rohani di Palembang, Sumatera Selatan adalah Masjid Agung Palembang. Masjid Agung Palembang merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Konon masjid ini merupakan bangunan masjid terbesar di Nusantara pada saat itu.

Saat pertama kali dibangun masjid ini mempunyai luas 1.080 m2 dengan daya tampung 1.200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf dari Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta Mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.

Masjid yang menjadi titik nol kota empek-empek itu memiliki dua buah bangunan. Bangunan asli dan bangunan baru. Bangunan asli (lama) berada di tengah bangunan baru. Bangunan asli masih terawat dengan baik. Salah satu buktinya, Asmaul Husna (99 nama Allah menurut ajaran Islam) di langit-langit masjid lama masih terlihat dengan jelas dan tampak seperti baru.

Sementara bangunan masjid yang baru tampak megah dengan interior perpaduan Eropa dan Palembang. Bangunan itu baru diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri saat masih menjabat sebagai presiden.

Saat berada di Palembang, saya menyempatkan diri untuk ke sana. Sebelum menemui pengurus masjid, saya sengaja berkeliling halaman dan mengambil beberapa foto. Ada beberapa hal yang unik di sini. Masjid tersebut memiliki banyak kran air untuk wudhlu. Di air mancurnya saja ada 22 kran air yang semuanya masih berfungsi.

Nah, yang paling unik adalah sebuah plang atau rambu-rambu yang terletak di setiap sudut halaman masjid. Plang itu berisi larangan untuk tidak berpacaran di masjid. “DILARANG PACARAN DI HALAMAN MASJID AGUNG DAN SEKITARNYA,” begitu bunyi rambu tersebut. Kalimat itu ditulis dengan huruf besar agar pengunjung dapat melihat dan membacanya. Khusus untuk tulisan DILARANG PACARAN, pengurus menulisnya dengan cat berwarna merah. Bagus juga nih ide pengurus masjid.

Menurut petugas keamanan masjid, Wawan, halaman masjid sering kali menjadi sasaran empuk pemuda-pemudi kota itu untuk memadu kasih. Halaman tersebut disukai sebagai tempat pacaran karena di beberapa sudut, penerangan sangat kurang. Suasana yang gelap ini disukai mereka. Ditambah indahnya pemandangan di sekitar masjid itu. Gemerlap lampu dari pancuran dan rumah toko di depan Masjid Agung menjadi pemandangan yang menarik bagi setiap orang.

Air mancur yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang itu, hampir serupa dengan air mancur Jalan Thamrin di depan Hotel Indonesia, Jakarta. Pada malam hari air mancur yang terkena sinar lampu memancarkan warna-warni indah dan artistik, sehingga disukai masyarakat. Mereka bisa menikmatinya sampai larut malam.

“Masjid itu kan tempat suci, jadi sepertinya tidak pantas kalau dijadikan tempat berpacaran. Apalagi kita kan tidak tahu mereka melakukan apa saja di situ. Jadi jangan lah,” terangnya. Wawan mengatakan rambu ini dipasang saat pembangunan bangunan baru Masjid Agung.

Jarang sekali masjid yang memasang rambu seperti itu. Hal ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pengurus untuk menghormati agama, kebudayaan, dan masyarakat itu sendiri. Sayangnya, tulisan ini tidak diberi lampu, sehingga tidak terlihat di malam hari. Padahal, orang-orang sering menyalahgunakan lahan sepi dan kosong masjid itu pada malam hari. Ada-ada aja orang-orang. Dunia… dunia….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s