Pohon Natal Ala Sembilang

Setelah beristirahat semalam di Palembang, pada hari kelima, saya akan menuju Taman Nasional Sembilang. Perlengkapan untuk ke sana sudah berada di tas. Sekarang tinggal menunggu Mas Boy, teman dari Kompas Palembang dan dalam hitungan menit ternyata dia sudah datang. Atas kebaikan Mas Boy, saya bisa menghemat biaya transportasi deh. Hehehe…. Terimakasih Mas Boy.

Kembali lagi ke topik. Berdua kami menuju ke kantor Taman Nasional Sembilang di Jalan AMD, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang. Sekitar dua kilometer dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Di sana Kepala TN Sembilang, Sumantri sudah menunggu. Setelah berkenalan dan bercengkerama, Kepala TN Sembilang mulai menerangkan kepada kami tentang kawasan TN Sembilang.

Menurut dia, Kawasan Taman Nasional Sembilang merupakan lahan basah pesisir alami dengan berbagai eksosistem hutan rawa gambut, rawa air tawar, hutan mangrove dan dataran lumpur. Kawasan yang secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Banyuasin tersebut, sejak 19 Maret 2003 ditetapkan sebagai taman nasional yang berdiri sendiri, berpisah dari saudaranya Taman Nasional Berbak, Jambi. Kawasan ini disebut Sembilang karena banyak ditemukan ikan Sembilang (plotosus canius).

Semenanjung Banyuasin yang terletak di pesisir timur Sumatera Selatan merupakan surga bagi burung-burung air. Dataran lumpur dan pasir yang berbatasan dengan vegetasi mangrove ini kaya akan berbagai jenis invertebrata seperti cacing, moluska, dan crustacea. Dataran ini ada yang menjorok ke laut sampai lebih dari 1,5 kilometer dari garis pantai. Tak heran, pada Oktober-Desember, burung-burung migran dari Asia dan Eropa suka singgah di taman nasional ini.

Kuntul cina (Egretta eulophotes), trinil-lumpur asia (Limnodromus semipalmatus), dan pedendang topeng (Heliopais personata), hanyalah sedikit dari sekitar 30 spesies burung migran yang numpang mendarat di Semenanjung Banyuasin. Burung-burung tersebut terpaksa mencari tempat suaka sementara untuk menghindari musim dingin di habitat asalnya, wilayah Siberia, Semenanjung Korea, dan Jepang. Tujuan mereka adalah kawasan hangat beriklim subtropik, Australia.

Pemandangan paling eksotik, lanjutnya, dapat ditemukan di Pulai Betet (pos tiga) yang berada di bagian paling utara kawasan tersebut. Sebab, beberapa rawa di pulau itu terkenal dengan pusat ular, buaya, anggrek langka. Jika beruntung, kita bisa menemukan lumba-lumba air tawar lho.

Mendengar kekayaan alam di TN Sembilang, Mas Boy yang awalnya tidak akan ikut karena sedang mabuk durian, akhirnya memutuskan untuk bergabung dalam petualangan itu. Yeah, akhirnya saya mendapat teman untuk ke sana!

Kami berangkat setelah Shalat Jumat. Rombongan berjumlah tujuh orang, termasuk nahkoda kapal. Kami berangkat menggunakan speedboat 40 pk. Tujuh orang ditambah muatan dan tiga jirigen persediaan bahan bakar minyak (bensin), ternyata membuat speedboat tak dapat melaju dengan cepat karena overload. Padahal kami harus melewati beberapa sungai, anak sungai, cucu sungai, dan cicit sungai. Kami tak mungkin melewati laut. Gelombang yang tinggi tak memungkinkan kami mengarunginya.

Alhasil, perjalanan selama empat jam molor menjadi sembilan jam. Keterlambatan ini juga disebabkan oleh mesin yang belum terbiasa dengan bensin murni. Biasanya, speedboat tersebut diisi bahan bakar bensin campur minyak tanah. Tapi minyak tanah sudah langka, jadi untuk menekan biaya, kami menggunakan bensin murni.

Beberapa kali speedboat kami mogok. Malah lebih sering mogoknya ketimbang jalan. Saat itu saya berpikir, “Uh, its gonna be a long journey.” Hingga malam tiba, kami masih berada di atas air dan itu menyiksaku. Apalagi saya takut kedalaman. Namun, saya hanya bisa berdoa sampai akhirnya, rasa kantuk menyerang. Meski demikian, tegangnya syaraf di otak menghalau saya untuk tidur. Stres karena belum juga sampai di tujuan. Saat itu, kami sedang berada di sebuah rawa yang katanya banyak buaya. Semua awak kapal sampai tak berani menyebutkan kata “buaya” mereka menggantinya dengan kata “cocrodile”, padahal kalimat itu adalah sama.

Kemudian saya mencoba mendongakkan kepala. Kebetulan, atap speedboat sedang dibuka. Apa yang saya lihat? Ternyata Tuhan tak membiarkan kami terlarut dalam stres dan ketidakpastian kapan akan sampai di tujuan. Tuhan sungguh adil dan mengirimkan karunianya melalui ribuan kunang-kunang yang sedang hinggap di pepohonan di sepanjang rawa tersebut. Indahnyaaaaaa!!!! Percaya atau tidak, ini adalah pertama kalinya saya melihat kunang-kunang.

Gerombolan kunang-kunang itu bak lampu yang menghiasi pohon natal di bulan Desember. Mereka memberikan cahaya kelap-kelip berwarna putih yang sangat kontras dengan warna hitam yang dihasilkan malam.

Pemandangan inilah yang kembali menjernihkan pikiran kami dan akan menjadi kenangan abadi di dalam kehidupan kami, khususnya saya. Terimakasih ya Tuhan….

Sampai akhirnya, entah bagaimana, mesin tak pernah mogok dan beberapa jam kemudian, kami melihat cahaya perkampungan dari kejauhan. Perkampungan yang bernama, Sembilang…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s