Palembang Sang Kota 1.000 Ruko

Jakarta diguyur hujan pada pagi itu. Maklum saja, Senin (26/1/2009) merupakan tahun barunya orang China. Meski demikian, saya tetap berangkat ke Sumatera Selatan. Rencananya saya akan travelling selama 7 hari di propinsi tersebut. Pintu gerbang Sumsel berada di Palembang. Dapat dijangkau dari Jakarta melalui jalur udara. Saya menjadwalkan akan berada di sana selama dua hari.

Jika menempuh jalan darat, Anda harus menyeberang Selat Sunda dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni. Sementara jalur udara, Anda langsung tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Jalan Tanjung Api-Api, Palembang. Saya lebih memilih naik pesawat karena hanya memakan waktu satu jam dari Jakarta. Perjalanan siang itu cukup lancar, meski Jakarta diguyur hujan dari pagi hari.

Apa yang dibayangkan, tak selalu sama dengan kenyataan. Itulah yang saya alami saat tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Palembang ternyata kota yang masih asri, walaupun kata teman saya, hutan di Palembang saat ini jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Minimal, dalam hati saya, Palembang masih memiliki hutan yang masih perawan di tengah-tengah kota.

Sebagai kota tertua di Indonesia, pembangunan di Palembang belum maksimal. Namun, ada pembangunan yang saya rasa agak berlebih di sini, yaitu pertumbuhan rumah toko alias ruko. Sepanjang jalan protokol, Jalan Sudirman misalnya, ruko banyak berjejer di setiap sisi atau di sekitar Jalan Merdeka. Jalanan pusat kota tersebut tak luput dari pembangunan ruko.

Bangunan kuno sepanjang jalan tersebut dibongkar untuk dijadikan ruko. Ruko lama dibongkar diganti dengan bangunan ruko baru. Sayangnya, ruko-ruko yang sudah berdiri tampak tak terawat. Dindingnya penuh dengan lumut, papan nama yang terbuat dari seng berlapis karat, besi bangunan pun menyembul di dinding.

Tak heran jika Palembang juga dijuluki sebagai kota 1.000 ruko. Menurut teman saya yang asli dan tinggal di Palembang, hal tersebut karena kebudayaan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu, sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah berdagang dan perdagangan lah yang menghidupkan wilayah tersebut.

Selain banyak ruko, Palembang juga memiliki banyak angkutan kota. Angkutan kota dengan berbagai macam tujuan berseliweran di setiap sudut kota. Untuk jurusan Ampera sendiri, ada sembilan trayek. Walaupun ini memberi kemudahan bagi pecinta backpacker yang berkunjung di Serambi Sriwijaya.

Banyaknya ruko dan angkot, membuat pusat kota Palembang memiliki kesan kumuh dan tak terawat. Terutama di sekitar titik nol kota alias Masjid Agung Palembang. Jalan sering macet karena angkot yang menyemut. Sekeliling masjid tersebut juga banyak ruko yang tak terawat.

Di sisi lain, Palembang memiliki banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan. Terutama di sekitar Sungai Musi. Di sana ada Benteng Kuto Besak, Museum Badaruddin II, rumah rakit, restoran apung, Jembatan Ampera tentunya, serta sejumlah tempat wisata lain.

Selain itu, Palembang memiliki segudang potensi wisata kuliner, seperti empek-empek, Martabak Har, dan sarikaya. Rasanya, Emmmm……. tiada dua! Meski di Jakarta juga ada empek-empek, tapi empek-empek Palembang lebih maknyus, kalau kata Pak Bondan.

Beberapa waktu lalu, pemerintah pusat sedang menggerakkan wisata di Palembang dengan program Visit Musi. Segala objek wisata di sekitar Sungai Musi diperbaiki dan kembali ditata pengelolaannya. Seandainya saja pemerintah, baik pusat maupun daerah juga mau mengatur ruko-ruko tersebut. Siapa tahu Palembang menjadi pusat wisata ruko, seperti halnya Hongkong pusat wisata belanja.

Hal tersebut akan menjadi sebuah potensi yang akan memajukan etos kerja masyarakat Palembang yang sebagian besar berdagang, seperti nenek buyutnya di Kerajaan Sriwijaya.

Sebab, banyaknya ruko yang kurang tertata rapi, membuat Palembang menjadi kota yang kumuh. Ditambah banyaknya angkot yang membuat jalan di sekitar objek-objek wisata tersebut terkesan semrawut. Pengelolaan objek wisata juga tidak maksimal. Ini mungkin salah satu penyebab objek wisata di Palembang, sepi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s