Larangan Keluar Malam Bagi Wisatawan di Palembang

ampera dari Kuto Besak

Jembatan Ampera merupakan salah satu ciri khas Kota Palembang. Di pagi hari, jembatan itu terlihat kokoh berdiri di atas Sungai Musi dan menghubungkan dua kabupaten di kota 1.000 rumah toko. Saat mencari informasi tentang Palembang, ada foto Jembatan Ampera yang diambil kala malam hari. Betapa indahnya Jembatan Ampera pada malam hari. Ratusan lampu menambah eksotik jembatan tersebut. Oleh karena itu, saya menambahkan jadwal berwisata malam pada hari pertama di Palembang.

Namun, teman dari Kompas, Boy menyarankan agar aku tidak keluar pada malam hari. Terlebih, aq keluar sendirian. Hmmm… Perasaan sudah tak enak nih. Mas Boy kemudian menjelaskan, keluar malam sangat berbahaya, apalagi untuk seorang wanita. Ternyata, selain  mendapatkan julukan 1.000 ruko, Palembang juga terkenal sebagai kota banyak copet. Oooo… Saya baru ingat kenapa budhe selalu berpesan agar saya tidak keluar malam atau menerima minuman dari orang lain. Itu tho maksudnya. Maklum, dia pernah tinggal di Palembang dan menikah dengan orang Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Larangan keluar malam juga datang dari penjaga restoran Martabak Har di Jalan Sudirman, Palembang. Mungkin karena wajah bingung dan logat Jawa saya yang kental, dia bertanya, “Mbak dari mana?”

“Saya dari Jakarta Pak,” jawab saya.

“Sedang liburan ya?” lanjutnya.

“Iya Pak,” kataku singkat.

“Oh, ini kembaliannya. Pesan saya, jangan keluar malam ya  mbak,” tuturnya sambil tersenyum ramah.

“Waduh, sudah ada tiga orang yang berbicara seperti itu. Berarti benar-benar bahaya nih,” pikirku.

Akhirnya, saya menghapus rencana liputan malam ke Jembatan Ampera dari daftar perjalanan. Tapi saya tetap mengusahakan agar perjalanan malam itu tetap berhasil. Saya telepon teman dari Persda Kompas-Gramedia, Mbak Ita namanya. Sepertinya saya memang tidak diizinkan Allah untuk pergi malam, karena ternyata Mbak Ita tidak bisa pergi. Kebetulan dia sedang libur dan pulang ke rumahnya di Banyuasin.

Akhirnya saya pasrah dan benar-benar menghapus liputan malam dari list. Tapi siapa sangka, Mas Boni dari Kompas mengajakku liputan acara pencanangan kesehatan gratis di Sumsel, pukul 18.00. Wah, asik!!!! Meski tidak ke Jembatan Ampera dan tidak mewakili kehidupan malam di Palembang, minimal saya bisa menikmati suasananya.

Pada saat itu, acaranya bertempat di sebuah cafe yang katanya tempat makan yang cukup terkenal di sana. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, itu berarti kami sudah sangat telat. “Kita pakai motor megapro aja ya biar cepat,” kata Mas Boni. Senior saya ini, lalu menancap gas sedalam-dalamnya. Ngeri memang, namun saya masih dapat melihat ratusan lampu-lampu di jalanan dan sejumlah bangunan.

Nah, ada sebuah kejadian yang membuatku menikmati perjalanan singkat tersebut. Ceritanya begini. Saat kami berada di sebuah jalan (namanya saya lupa), tiba-tiba ada suara riuh dari bus kota yang sedang berjalan lambat. “Huuuu……..!!!” Rupanya seluruh penumpang bus yang mayoritas laki-laki itu, sedang menyoraki dua orang perempuan. Keduanya ternyata sedang distop oleh polisi lalu lintas karena tidak mengenakan helm. Penumpang bus meneriaki keduanya dengan menggunakan bahasa Palembang yang saya tidak tahu apa artinya. Teriakannya sekilas mirip dengan sebuah yel-yel yang dinyanyikan oleh suporter bola.

Mas Boni pun ikut terlarut dalam situasi itu. “Hahahaha… Salah siapa berkendara tanpa helm,” katanya. Saya pun hanya bisa tertawa melihatnya. Menakutkan juga ya dapat sanksi moral seperti itu. Kasihan juga dua perempuan itu, mudah-mudahan mereka dapat pelajaran dari situ.

Back to the topic. Kata Mas Boy, salah satu kendala dalam dunia pariwisata di Sumatera Selatan memang faktor keamanan di malam hari. Padahal, beberapa objek wisata jauh lebih baik jika dikunjungi pada malam hari. Dia juga mengingatkan saya untuk tidak ke luar kota pada malam hari. Jika dipikir-pikir, daerah Sumsel memang masih banyak hutan, sehingga sangat rawan tindak kejahatan.

Sopir yang mengantar saya ke Baturaja, Pak Zen pernah bercerita tentang “bajing loncat.” Menurut dia, salah satu piranti utama “bajing loncat” loncat adalah pohon besar. “Bajing loncat” adalah sebuah julukan untuk penjahat yang menguras habis muatan truk dengan cara meloncat dari pepohon.

Ya, ini mungkin menjadi salah satu pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah kota dan daerah. Tapi jika pemerintah dapat diselesaikan dengan baik, wisata malam di Sumsel akan lebih hidup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s