Jengkelan dan Kegembiraan Menjadi Satu di Danau Ranau

Setelah menginap semalam di Muara Dua, akhirnya saya bersama sopir, Pak Zen, dan saudara saya yang tinggal di ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur itu, melanjutkan perjalanan ke Danau Ranau. Danau Ranau adalah sebuah danau vulkanik yang berada di perbatasan Kabupaten Lampung Barat, Lampung dan Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan.

Perjalanan ke sana cukup menegangkan karena jalannya yang hanya cukup untuk satu mobil dan berkelok-kelok. Kelokannya bukan kelokan biasa, tapi sangat tajam. Pak Zen sampai harus memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan untuk mengimbangi bantingan setir mobil. Sejumlah titik jalan ada berbagai macam rintangan, seperti pohon tumbang yang tergeletak di jalan, atau bekas tanah longsor. Tak heran jika jalanan sering memakan korban jiwa. Jadi kami harus berhati-hati saat melintasi jalan ini.

Pak Zen juga tetap menancap gasnya walau ada balok kayu melintang. “Takutnya ini jebakan mbak. Sebagian perampok memakai cara begini untuk mencegat sasarannya,” jelas bapak beranak tiga itu. “Hmmm… Ok!” pikirku.

Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, kami sampai juga di Kawasan Objek Wisata Danau Ranau. Udara di sana sangat sejuk karena dikelilingi oleh perbukitan. Selain itu, masih banyak rumah ulu. Rumah ulu adalah rumah tradisional orang Ulu.

Pendingin mobil segera saya matikan dan segera membuka jendela untuk menikmati pemandangan dan kesejukan daerah wisata itu. Betapa asrinya lingkungan itu dan tidak mungkin saya dapatkan di daerah kelahiran saya di Kudus, Jawa Tengah, apalagi Jakarta.

Apalagi saat memasuki objek wisata tersebut. Ah, indah nian karunia Tuhan ini. Dari pintu gerbangnya sudah terlihat keelokan sebuah danau dengan latar belakang Gunung Seminung. Hamparan air berwarna hijau menghubungkan bukit satu dengan yang lain. Kesejukannya mampu membersihkan paru-paruku.

Namun, kesenangan tersebut buyar saat kami memasuki loket Objek Wisata Danau Ranau. Coba tebak apa penyebabnya? Karena kami ditarik retribusi yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah di karcis. Bagaimana bisa? Kalau dilihat dari sisi jumlah, memang tidak seberapa, hanya Rp1.000 per orang. Bukan jumlah yang saya permasalahkan. Tapi kejujuran penjaganya kepada para tamu. Karcis yang saya terima, retribusi untuk pemerintah daerah hanya Rp500 per orang. Yang mencurigakan lagi adalah karcisnya yang sudah lusuh.

“Adanya karcis lama mbak. Karcis barunya belum ada. Jadi pakai karcis yang ini,” kata petugas tanpa berseragam itu. Berbagai kecurigaan muncul di benak saya. “Atau ini loket bayangan ya? Sebab, loketnya pun sudah acakadul alias berantakan,” pikirku. Namun, saya berusaha tetap berpikiran positif dan mencoba melupakan hal tersebut.

Saya pun mengalihkan pandangan dari karcis itu ke indahnya Danau Ranau. Seketika, kekesalan saya menghilang karena terkalahkan oleh campuran keindahan yang berlimpah dari pemandangan itu. Oh, Tuhan, akankah keindahan ini abadi?

Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar dan terkenal sebagai penghasil ikan ukuran jumbo. Nelayan sering memburu sejumlah ikan, seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan. Mereka mencari ikan dengan kapal kecil, pancing ataupun jala. Tapi sebagian besar nelayan mencari ikan menggunakan pancingan. Sebuah kebiasaan yang akan membantu menjaga kelestarian alam ini.

Kami memilih memarkir mobil di Wisma PT Pusri karena lebih aman dan nyaman. Dari luar, wisma yang lebih sering disebut Wisma Pusri itu, terlihat biasa saja. Namun, dalamnya, wow! Saya menyesal kenapa kemarin tidak menginap di sini. Kamar-kamar wisma ini langsung menghadap ke danau. Sangat cocok untuk bulan madu.

Lalu kami menuju ke dermaganya untuk menyewa kapal dan berkeliling ke Danau Ranau. Ada beberapa rangkaian objek yang bisa dikunjungi ketika berwisata ke danau ini, seperti pemandian air panas dan Pulau Marisa. Biaya untuk menyewa perahu Rp120.000, itupun setelah melewati proses tawar menawar dan tujuannya hanya ke dua tempat di atas, tidak mengelilingi seluruh danau.

Untuk masuk di pemandian air panas, pengunjung kembaki ditarik uang Rp1.500 per orang. Ada dua tiket masuk, untuk retribusi dan pengelola. Pemandian air panas ini sebenarnya pinggiran danau yang tepat berada di sebuah tebing. Tebing itu mengeluarkan air panas dan bercampur dengan air danau yang dingin. Arena pemandian air panas dan danau hanya dibatasi oleh sebuah dinding setinggi 50 centimeter dan pagar setinggi dua meter.

Sementara Pulau Marisa merupakan pulau kecil tak berpenghuni. Selain keindahannya, pulau ini dapat dijual dengan legendanya. Menurut legenda, pulau ini merupakan tanah yang tercecer saat Si Pahit Lidah ingin membangun jalan yang menghubungkan dua buah bukit.

Selain dua objek itu, keindahan Danau Ranau juga diperkaya oleh air terjun. Meski kecil, air terjun ini sangat memesona dengan tambahan rangkaian tumbuhan liar di sekitarnya. Sayangnya, air terjun ini sangat tidak terawat dan penuh sampah plastik. Jika dikelola baik, air terjun tersebut pasti banyak dikunjungi wisatawan.

Pengunjung tak perlu meluangkan terlalu banyak untuk menyapu habis seluruh objek tersebut. Luangkanlah waktu sekitar 3-4 jam. Dalam setengah hari, seluruh objek ini selesai saya jelajahi. Itu artinya, saya harus bergegas pulang ke Palembang sebelum malam tiba. Sebab, keesokan harinya saya harus ke Taman Nasional Sembilang dan sudah ditunggu oleh Kepala TN Sembilang, Sumatri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s