Di Palembang Ada Ketek Bermesin!

Ketek, di Pulau Jawa disebut juga getek atau rakit. Ketek adalah salah satu angkutan air yang terbuat dari bambu yang diikat secara berjajar. Tapi, pernahkah Anda membayangkan ketek bermesin? Hmmmm… kalau di Palembang Sumatera Selatan, ada ketek bermesin. Bagaimana bisa? Bisa, sebab semua ketek di Palembang memang bermesin.

Pertama kali, saya membayangkan bentuk ‘ketek’ ini seperti rakit di Pulau Jawa. Tak terbayang kan naik ketek bermesin menyusuri Sungai Musi? Atas saran seorang teman, paling asik menyusuri Sungai Musi menggunakan ketek.

Namun, saat mengunjungi salah satu ciri khas Sumatera Selatan itu, saya terheran-heran karena tidak ada ketek alias rakit di situ. Yang ada hanyalah perahu-perahu berukuran tanggung, beratap, yang dilengkapi dengan mesin. Padahal, sebagian besar penduduk yang berada di sekitar pelabuhan Benteng Kuto Besak, menawarkan jasa penyewaan ketek.

“Ketek mbak, ketek. Ke Pulau Kemarau? Naik ketek saja mbak,” ujar Joni salah satu penyedia jasa tersebut kepada saya. Lalu karena penasaran, saya bertanya, “Keteknya mana Pak?”

“O, itu mbak,” katanya sambil menunjuk ke arah perahu kecil yang dari tadi saya lihat.

ketek

“Lho, ketek itu bukan rakit yang dari bambu itu ya Pak?” tanyaku lagi.

“Bukan mbak. Di sini ketek itu perahu bermesin,” jelas¬†Joni.

Oo…. ternyata itu tho, yang namanya ketek. Ketek ini bentuknya ramping karena panjang, dan lebar badannya hanya cukup untuk dua orang dewasa. Bagian tengah ketek diberi atap untuk menghalau panasnya sinar matahari di Palembang yang katanya seperti ada empat matahari saat musim kemarau.

Biaya menyewa ketek cukup murah, sekitar Rp50.000, tergantung kepiawaian dalam tawar menawar. Jika Anda menawarnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia, mereka akan memasang tarif tinggi berkisar Rp70.000.

Saat menyewa ketek, rugi jika Anda hanya berkunjung ke satu tempat di Sungai Musi. Sebab, di Sungai Musi banyak objek yang bisa didatangi, seperti Pulau Kemarau, rumah rakit, restoran apung, dan sejumlah vihara. Pemilik ketek pun dengan senang hati menunggu Anda di tepi sungai. Kalau sudah terlalu lama, mereka akan memanggil. Jadi jangan khawatir ditinggal, asal Anda tidak membayarnya di muka.

Ketek di Sungai Musi ternyata juga memiliki saingan. Saingannya adalah speed boat. Jangan harap akan menemukan speed boat seperti di film-film saat di sungai ini. Sebagain besar speed boat di Sumatera terbuat kayu dengan ukuran kecil, panjang tiga meter dan lebar satu meter. Perahu jenis ini dilengkapi dengan mesin 40 pk. Harga sewanya pun sama. Hanya saja, speed boat dapat melaju lebih cepat.

Namun, lambatnya laju ketek membuat saya dapat menikmati pemandangan di Sungai Musi. Meski cuaca sedang mendung, sungai terpanjang di Sumatera itu mampu menghipnotis saya. Sapuan angin, membelai lembut wajah saya di bawah atap parasit ketek.

Lingkungan khas Palembang masih terlihat di sini. Beberapa rumah rakit dengan ukiran Palembang masih terlihat. Sejumlah aktivitas perdagangan masih berlangsung di sini, maklum saja, Sungai Musi merupakan jalan air yang menjadi andalan masyarakat Palembang. Ketika berkeliling sungai itu, saya melihat ada sejumlah vihara di pinggir Sungai Musi, seperti Vihara Yayasan Dewi Pengasih dan klenteng Pulau Kemarau. Ada juga sejumlah warung dan restoran terapung. Ada juga kapal puskesmas keliling dan kapal pemadam kebakaran. Sayangnya, saat itu hari libur nasional, sehingga saya tidak berhasil mendapatkan informasi dan data apapun tentang dua kapal layanan publik itu.

Hal utama yang saya rasakan saat naik ketek, benda itu membuat saya merasa nyaman dalam berkendara di air. Tak ada air yang masuk ke kapal dan membasahi tubuh Anda seperti halnya speed boat. Selain itu, ukuran ketek lebih besar dari speed boat. Bagi saya yang pobia kedalaman, hal tersebut menjadi pertimbangan utama dalam berkendara air karena jarak badan dan air, lumayan jauh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s