Cacing Perut Menderita Karena “Racun”?

Mentari belum menampakkan wajahnya pagi ini. Udara Kota Palembang pagi itu masih sejuk, terbebas dari kepulan asap kendaraan bermotor. Sebagian besar penduduk kota ini masih berada di balik selimutnya. Maklum saja, jam di telepon genggam bututku masih menunjukkan pukul 04.00. Namun, saya harus melanjutkan perjalanan ke Baturaja, Sumatera Selatan.

Baturaja merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Kata sopir yang mengantarkanku, Pak Zen, dibutuhkan waktu sekitar empat sampai lima jam ke sana. Perjalanan yang cukup panjang untuk hari itu. Beruntung Pak Zen adalah orang yang ramah dan dapat mencairkan suasana.

Perjalanan ini benar-benar tak seperti yang saya bayangkan. Dari awal, saya membayangkan akan menemukan warung-warung atau tempat singgah di jalan. Ternyata, yang kami temui hanyalah hutan, hutan, dan hutan. Semuanya hutan, jika pun ada desa, hanya terdapat sekitar 10-20 rumah. Luas desa dengan luas hutan, lebih besar luas hutan. Terkadang ada selingan lahan gambut.

Terpaksa, saya harus pura-pura tidak tahu ada cacing yang sedang protes di perut. Apalagi Pak Zen melarangku untuk membeli makanan di sepanjang jalan. Alasannya sederhana, hal itu sangatlah tidak aman.

Saat kami melewati daerah yang cukup gersang, barulah Pak Zen mau menerangkan arti kata ‘sangatlah tidak aman’ itu. Daerah gersang di sini adalah daerah yang sebagian besar ditumbuhi pohon kelapa yang daun-daunnya habis dimakan hama, itu adalah istilah dari Pak Zen. Pria berusia 40-an itu memulai penjelasannya dengan kalimat, “Di sini daerah racun.”

Saya kemudian berpikir, “Daerah racun? Wow, berarti di sini banyak sekali tanaman racun? Ini perlu dilestarikan.”

Tetapi pikiran itu buyar ketika saya tahu apa arti dari ‘daerah racun’ itu. ‘Daerah racun’ berarti daerah yang masih kental dengan hal-hal mistisnya. Kalau di Pulau Jawa sama dengan daerah santet. Hmmm… ternyata di sini berbahaya juga. Padahal ada beberapa warung penyedia makanan yang kelihatannya lezat.

“Saya tidak pernah meleset mbak. Soalnya saya sering mengantar orang yang tahu juga. Ciri-cirinya, pohon kelapanya tinggi, daun-daunnya pada rusak, daerahnya gersang. Kalau kita melihara racun kan harus ditaruh di tempat yang tinggi mbak,” ujar Pak Zen melengkapi penjelasannya.

“Wah, kalau yang tidak tahu dan makan di warung situ bagaimana ya Pak?” tanya saya penasaran.

“Sebenarnya kalau yang jualan baik sih tidak apa-apa. Tapi orang di daerah racun biasanya gampang tersinggung. Kalau pas lagi sial, begitu kita minum atau makan yang dia kasih, harta kita melayang. Percaya tidak percaya sih mbak,” tuturnya.

Merinding juga mendengar hal tersebut, tapi the show must go on, saya harus tetap melanjutkan perjalanan. Alhasil, cacing di perutku harus menahan penderitaannya lebih lama karena ada ‘racun’.

Kata dia, sejumlah daerah di Sumatera Selatan masih memiliki kebiasaan santet menyantet yang kental. Kemudian pria bernama lengkap Jentareza itu mulai bercerita tentang pengalamannya saat menjadi mandor dalam suatu proyek jembatan. Pada awal bekerja di situ, dia dan anak buahnya sering melihat harimau Sumatera lewat. “Kita sih diam dulu kalau dia lewat, begitu dia hilang, kami baru berjalan. Tapi tidak apa-apa. Tidak gigit kok. Hehehe,” ujarnya.

“Lalu, saya baru tahu kalau ternyata itu harimau jadi-jadian setelah anak buah saya seenaknya mengambil buah rambutan milik seorang bapak tua yang sering mampir ke proyek. Bapak itu marah, lalu saya ke rumahnya untuk minta maaf sekaligus membawakan sembako. Wah, akhirnya luruh hati bapak itu. Tak tahunya, dia berubah menjadi harimau. Saya kaget, tapi dia bilang tidak usah takut. Setelah itu, saya diberi sebuah batu dan saya pantang berjalan di bawah jemuran dan makan ikan tanpa sisik,” lanjutnya semangat.

Sebenarnya takut juga mendengar cerita Pak Zen. Yach, kalau dipikir dengan logika, memang tidak masuk akal. Namun, inilah yang terjadi di sejumlah belahan bumi Indonesia.

Welcome to Batujara

Sepanjang perjalanan Pak Zen dengan senang hati menerangkan segala sesuatu tentang Sumatera Selatan, mulai dari Palembang hingga Sungsang. Tak terasa mentari sudah muncul dan jam sudah menunjukkan pukul 06.45. Karena keasikkan mengobrol, kami kaget ada seorang ibu dengan sepeda motor lengkap dengan kedua anaknya, nyelonong dari gang menuju jalur cepat. Padahal, jalan tersebut hanya cukup untuk dua buah mobil. Pak Zen sigap membunyikan klakson. Tak tahunya, si ibu kaget dan mengerem motornya. Akan tetapi motornya merosot karena jalan dari gang ke jalur cepat, menanjak. Namun, hal tersebut membuat puti ciliknya yang berusia sekitar empat tahun, lepas dari genggamannya dan anak itu terjun bebas tepat di selokan. Hal tersebut membuat saya merasa bersalah, tapi hal tersebut memberi pelajaran kepada sang ibu untuk tidak sembrono saat menyeberang jalan.

Tak terasa, akhirnya kami sampai di Baturaja. Wilayah Baturaja sangat kecil. Jalanan di sana pun sangat kecil, lebih mirip gang. Itupun lebih kecil dari lebar gang di Jakarta. Kami pun bergegas menuju rumah saudara saya yang bernama Erna. Kebetulan, kami baru pertama kali ini bertemu. Hehehehe…. Kabar baiknya, dia bersedia mengantarku ke Gua Putri. Yippi!!!! Welcome to Baturaja dan akhirnya bisa makan!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s