“Bermain” dengan Nyawa di Taman Nasional Sembilang

Setelah merebahkan badan dan memejamkan mata selama beberapa jam di Pos TN Sembilang, saya dan rombongan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pusat burung migran berkumpul.

Ya, sembilang memang terkenal sebagai satu dari sedikit tempat singgah burung migran yang mencari iklim hangat di Australia. Lumpur yang diendapkan oleh hutan bakau menyimpan segala makanan yang diperlukan berbagai jenis burung di dunia. Maklumlah, Sembilang merupakan hutan Magrove terluas di dunia.

Pukul 07.00 kami berangkat ke tempat itu menggunakan speedboat. Cuaca pagi itu memang agak mendung, tapi masih banyak nelayan yang berlayar di perairan Sembilang itu. Perjalanan awal, tak menemui kendala berarti. Namun, semakin lama awan hitam mulai menyelimuti langit dan semakin jarang pula kapal nelayan yang melintas di perairan itu. Padahal, kami sudah menempuh setengah perjalanan.

Entah mengapa, suasana mulai menegangkan. Pengemudi speedboat pun semakin kuwalahan mengatasi besarnya ombak yang tinggi melebihi satu meter. Hentakan badan speedboat ke permukaan air mulai terasa semakin keras. Kakiku seolah dapat merasakan betapa tipisnya batasan antara kaki dan permukaan laut. Speedboat juga mulai oleng karena besarnya ombak yang dihasilkan oleh angin barat.

“Pak, ombaknya bahaya ini pak. Bagaimana kalau kita kembali? Apalagi di sebelah sana  sudah hujan dan sepertinya akan terjadi badai,” ujar Pak Riza, Staff Taman Nasional Sembilang yang menjadi pengemudi speedboat, kepada Kepala TN Sembilang, Sumantri.

Pak Sumantri pun menanyakannya kepada saya, “Bagaimana mbak?”

“Sudah Pak, pulang saja,” jawabku dengan muka mengkhawatirkan.

Kami pun akhirnya pulang ke rumah semi permanen milik TN Sembilang yang sering disebut Pos 2 itu. Sesampai di sana, saya lega karena tak lagi berada di lautan. Beberapa menit kemudian hujan mulai mengguyur Sembilang.

Saat hujan seperti ini memberi berkah tersendiri bagi nelayan. Sebab, ikan-ikan banyak yang muncul di permukaan. Karena tak bisa berlayar, sebagian memilih memancing di depan rumahnya masing-masing. Aku pun tak mau melewatkan kesempatan itu dan meminjam alat pancing dari penjaga pos.

Namun, rupanya dewa keberuntungan sedang tak berpihak padaku. Umpan di pancing selalu habis, meski tak ada satu ikan pun yang terkena perangkap.

😦

Tak lama kemudian hujan turun dan Pak Sumantri mengajakku dan Mas Boy (teman dari Kompas) untuk kembali berlayar. Rencananya, kami akan kembali ke pusat burung migran tadi. “Tenang, kita berganti kapal dan biasanya air tenang selama kurang lebih dua jam setelah hujan turun,” kata dia menenangkan.

Akhirnya kami berlayar kembali, Mas Boy tak lupa mengingatkanku untuk tetap menggunakan pelampung.

Kami berlayar menggunakan kapal nelayan lokal yang menurutku berukuran cukup besar. Awal perjalanan terasa menyenangkan. Saya bahkan tak mau masuk ke dalam dan memilih duduk di tempat penyimpanan ikan.

Meski aku takut kedalaman, ukuran kapal yang besar membuatku ingin menikmati sejuknya udara laut di pagi itu. Udara yang tak pernah saya dapat di Jakarta. Udara yang pekat dengan bau air laut. Udara yang bersih dan menyegarkan paru-paru. Apalagi dengan kecepatan kapal yang lebih rendah dari speedboat.

Menurut perkiraan kami akan menempuh perjalanan selama 45 menit. Padahal, aku berpikir jaraknya tak begitu jauh dari Sembilang.

Selama 15 menit pertama, kami menikmati perjalanan itu. Lama kelamaan, rintik hujan mulai menemani perjalanan kami, dan perahu nelayan mulai hilang satu per satu. Jarak pandang pun memendek karena hujan, kabut, dan gelombang tinggi.

Aku, Mas Boy, dan sejumlah kru TN Sembilang diminta masuk ke dalam kapal agar tak kehujanan. Namun, justru di dalam kapal inilah penderitaan kami dimulai.

Di dalam kapal, kami merasa seperti di kocok-kocok. Penyebabnya, kemiringan kapal, semakin lama semakin membesar. Berat badan saya yang overweigth ini tak mampu memberi kuda-kuda yang kuat. Saya masih saja terguling di dalam kapal. Akibatnya, perut jadi mual.

Mas Boy memutuskan untuk duduk di bangku belakang kapal dan aku memilih duduk di pintu kapal, biar bisa melihat laut. Melihat laut ternyata cukup efektif untuk mengurangi rasa mual.

Lagi-lagi, ombak bertambah besar. Saya melihat, pinggiran kapal sudah menyentuh air beberapa kali. Mas Boy yang tadinya masih bisa becanda dan tertawa tak lagi berkutik. Mas Boy hanya memejamkan mata dan berpegangan ke bangku. Semakin lama, duduknya pun semakin ke kanan karena kapal miring ke kanan.

“Ya Allah, apakah aku akan mati hari ini?” kataku dalam hati.

Tiba-tiba, sang kapten mematikan kipas kapal. Saya benar-benar tak tahu apa maksudnya. Sang kapten kemudian menghampiri kami dan berkata, “Pak, ini ombak sudah berbahaya. Bagaimana? Mau dilanjutkan? Tapi kalau mau dilanjutkan, dua hari lalu, di sini ada kapal karam. Tiga hari tiga malam mereka tidak ditemukan.”

Saya dan Mas Boy akhirnya bersepakat, “Pulaaaaaang!!”

Dalam perjalanan pulang, saya terus berdoa agar diberi keselamatan hingga tujuan. Saat itu aku benar-benar pasrah. Bibirku selalu menyebutkan nama Allah dan bersiap jika sewaktu-waktu malaikat menjemput.

Beberapa lama, kami sampai di Sungai Sembilang dan menginjakkan kaki di panton pos 2.

Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dan merajut benang kehidupan. Mulai saat itu, saya lebih mensyukuri hidup dan berjanji akan memanfaatkannya untuk melakukan hal berguna.

Saya sadar, manusia hanya mampu berencana. Tuhan lah yang menentukan segalanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s