“Kau-Tahu-Siapa-Yang-Tak-Boleh-Disebutkan-Namanya” di Sembilang

Seusai bermain nyawa di Sembilang, kami memutuskan untuk berjalan di salah satu rawa Sungai Sembilang. Rawa tersebut terkenal sebagai ‘rumah’ ular.

Hmmm… Agak takut juga awalnya. Tapi rasa takut itu dikalahkan oleh indahnya deretan pohon bakau. Hutan bakau di sana memang benar masih perawan, belum terjamah oleh penduduk asli sekalipun. Mereka mampu hidup berdampingan dengan alam, tanpa mengganggunya.

Penduduk memiliki cara alami untuk menangkap ikan atau kepiting. Mereka biasa menambak, memancing, atau menjala ikan. Untuk menangkap kepiting, mereka memiliki alat sederhana yang ampuh. Alat jebakan itu terbuat dari bambu. Guna menarik perhatian kepiting masuk dalam perangkap, biasanya masyarakat menaruh daging ikan di dalamnya. Perangkap berbentuk segi empat itu lalu diikatkan di bambu di tepi rawa.

Saat masuk lebih dalam, pohon bakau mulai menutup langit. Terkadang, pohon yang satu dengan yang lain saling bertemu dan menyilang. Ada pula yang tumbang. Menurut Kepala Taman Nasional Sembilang, Sumantri, tanaman bakau atau mangrove di daerah itu, tumbang dan tumbuh dengan sendirinya.

“Terkadang ada mangrove yang terlihat tumbang. Tapi sebenarnya tidak. Mereka merupakan tumbuhan yang tahan banting. Akarnya akan tumbuh dan menjadi penopang batang yang miring tadi,” ujarnya.

Deretan mangrove terlihat begitu indah meski tumbuh tak beraturan. Daun-daun dan akarnya terlihat bersih, meski dia penahan lumpur.

Sepanjang perjalanan, kami berusaha membuka mata lebar-lebar. Mata kami mencari sejumlah mahkluk hidup yang ada di sekitar. Ternyata kami melihat ular berwarna hitam dengan motif garis kuning. Ular bakau namanya.

Menurut Sumantri, ular ini merupakan tipe ular pemburu. Dia sangat peka terhadap cahaya. “Di malam hari, dia akan mengejar hewan buruannya. Indikatornya, cahaya. Jadi kalau ada cahaya dia langsung memburu asal cahaya itu,” jelasnya.

Waduh, padahal lampu kilat kameraku sempat menyala. “Tenang-tenang, kalau siang, mereka tidur kok,” kata dia menenangkanku.

Setelah puas mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan. Semakin lama, rawa semakin sempit dan gelap. Sayup-sayup terdengar suara ombak yang terpecah oleh bebatuan. Rupanya kami hampir mencapai hilir rawa.

Namun, pemandangan di titik inilah yang membiusku. Begitu tentram dan damai.

Kami pun berdiam sejenak di tempat itu. Menikmati sejuknya udara dan indahnya pesona alam hutan bakau.

Kemudian Kepala TN Sembilang bertanya kepada penduduk Sembilang yang ikut mengantar kami ke rawa. “Ada yang pernah melihat datuk tidak di sini?” ujarnya dalam bahasa Palembang.

“Ada Pak,” jawab penduduk itu.

“Oh, masih ada ya?” Percakapan ini membuatku bertanya-tanya. Siapa ‘datuk’ itu?

“Apakah dia orang pintar di sini, sehingga mau tinggal di hutan yang beralas lumpur ini?” pikirku. Karena penasaran akupun bertanya, “Pak, memang datuk itu siapa?” Namun, Pak Sumantri tetap saja diam.

Setelah (sedikit) saya paksa, akhirnya dia bersedia buka mulut. “Datuk itu sebutan harimau di sini mbak,” kata dia lirih. “Kok bisa disebut datuk?” tanyaku lagi. “Karena di sini namanya memang tidak boleh disebut. Seperti di Sumatera Utara, namanya berubah menjadi ‘opung’. Menurut kepercayaan, jika namanya disebut, dia akan muncul,” sahut Mas Boy.

Oalah, ternyata Sembilang juga punya Voldemort ya. Voldemort adalah tokoh jahat dalam buku Harry Potter karangan JK Rowling. Dalam buku itu nama Voldemort pantang disebut oleh siapapun dan diganti dengan “Kau-Tahu-Siapa” atau “Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut.” Jadi, siapa bilang Indonesia kalah dengan negara barat?

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s